Sepulang dari perang, Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi kompetisi antara putra dan menantunya, yakni Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya.
Arya Pangiri ialah adipati Demak yang sukses menjadi raja kedua Kesulatanan Pajang atas sokongan Panembahan Kudus yang dipercayai sebagai Sunan Kudus, yang memerintah tahun 1583-1586 bergelar Sultan Ngawantipura.
Arya Pangiri ialah putra Sunan Prawoto raja keempat Demak, yang tewas dibunuh Arya Penangsang tahun 1549. Ia kemudian dirawat bibinya, yakni Ratu Kalinyamat di Jepara. Setelah dewasa, Arya Pangiri dinikahkan dengan Ratu Pembayun, putri tertua Sultan Hadiwijaya dan dijadikan sebagai bupati Demak.
Selaku sultan, Arya Pangiri berlaku tidak adil terhadap warga asli Pajang. Ia menyebabkan orang-orang Demak guna menggeser status para pejabat Pajang. Bahkan, rakyat Pajang pun tersisih oleh kedatangan warga Demak.
Akibatnya, tidak sedikit warga Pajang yang pulang menjadi perampok sebab kehilangan mata pencaharian. Sebagian lagi pindah ke Jipang menghamba pada Pangeran Benawa. Pemerintahan Arya Pangiri melulu disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram.
Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal tersebut membuat Pangeran Benawa yang telah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.
Ayah dari Arya Penangsang ialah Raden Kikin atau tidak jarang disebut sebagai Pangeran Sekar, putra Raden Patah raja Demak kesatu. Ibu Raden Kikin ialah putri bupati Jipang sampai-sampai ia dapat mewarisi status kakeknya. Selain tersebut Arya Penangsang pun mempunyai saudara beda ibu mempunyai nama Arya Mataram.
Pada tahun 1521 anak kesatu Raden Patah yang mempunyai nama Adipati Kudus (orang Portugis menyebutnya Pate Unus, dikenal pun sebagai Pangeran Sabrang Lor sebab melakukan penyerangan ke Malaka yang dikuasai Portugis) gugur dalam perang. Kedua adiknya, yakni Raden Kikin dan Raden Trenggana, justeru berebut tahta.
Raden Mukmin atau yang disebut pun sebagai Sunan Prawoto (putra kesatu Raden Trenggana) membunuh Raden Kikin sepulang salat Jumat di ambang sungai dengan memakai keris Kyai Setan Kober yang dicurinya dari Sunan Kudus. Sejak itu, Raden Kikin familiar dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen (bunga yang gugur di sungai).
Intrik berikut yang lantas memicu Arya Penangsang mengamuk dan menantang Hadiwijaya. Hadiwijaya tidak meladeninya dan menciptakan sayembara. Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram) mengekor sayembara dan sukses menumpas Arya Penangsang dengan pertolongan Ki Penjawi dan Juru Martani serta putranya. Sejak itu, Pajang menjadi kerajaan berdaulat di mana Demak sebagai bawahannya.
Pada kitab Panembahan Senapati karya Gamal Kamandoko dibeberkan secara mendetail sepak terjang Pajang beserta Sultan Hadiwijaya, Arya Penangsang, dan Arya Pangiri dan Panembahan Senapati beserta Ki Ageng Mataram, Ki Penjawi, dan Ki Juru Martani.
Arya Penangsang dan Arya Pangiri adalah trah dekat Demak/Raden Patah meskipun pun trah Raden Wijaya. Sementara Hadiwijaya dan Sutawijaya adalah trah jauh Raden Wijaya.
Dari cerita di atas, dalam pandangan saya, Arya Penangsang dendam sebab ayahnya dibunuh oleh adiknya, yaitu Sunan Prawoto dalam perebutan tahta Demak. Bila lantas menurut keterangan dari sejarah versi Babad/Mataram, Arya Penangsang dicap sebagai orang yang jahat, pasti itulah yang namanya sejarah. Karena sejarah mempunyai dua sisi, yakni sisi pahlawan dan sisi pengkhianat/penjajah, tergantung siapa yang membuatnya.
Atau dapat juga menggunakan dikotomi pihak yang satu me-liyan-kan pihak yang lainnya sebagaimana diungkapkan oleh NB. Atmadja dalam bukunya Genealogi Keruntuhan Majapahit.
Kemudian tentang Arya Pangiri yang didukung oleh Sunan Kudus yang Islam putihan. Meskipun Arya Pangiri ialah putra Sunan Prawoto yang membunuh kakaknya sendiri, yaitu Raden Kikin alias ayah Arya Penangsang.
Sama halnya dengan Arya Penangsang yang di-liyan-kan, Arya Pangiri juga di-liyan-kan oleh Benawa dan Sutawijaya yang beraliran Islam abangan. Berdasarkan keterangan dari analisis saya, terdapat nuansa eliminasi terhadap pengikut Islam putihan oleh Islam abangan.
Arya Penangsang pun sangat barangkali menganut Islam putihan sebab pewaris Raden Patah. Arya Pangiri didukung oleh Sunan Kudus yang menganut Islam putihan. Pajang pun lantas runtuh pasca Arya Pangiri dan diteruskan oleh Mataram yang lebih condong ke Islam abangan ketimbang putihan dengan sokongan Sunan Kalijaga.
Kala tersebut Sunan Kalijaga yang berdakwah ala Islam abangan telah menjadi sesepuh dan mendominasi perpolitikan Mataram. Walaupun pada akhir hidupnya, Sunan Kalijaga sadar dengan menganut Islam putihan.
Hal tersebut diketahui dengan diketemukannya karya Sunan Kalijaga berupa buku Suluk Linglung. Kitab itu menguraikan perihal Islam putihan. Sementara Islam abangan digunakan untuk berdakwah untuk masyarakat Jawa yang masih kental dengan agama Hindu, Buddha, dan Animisme-nya.
Arya Pangiri ialah adipati Demak yang sukses menjadi raja kedua Kesulatanan Pajang atas sokongan Panembahan Kudus yang dipercayai sebagai Sunan Kudus, yang memerintah tahun 1583-1586 bergelar Sultan Ngawantipura.
Arya Pangiri ialah putra Sunan Prawoto raja keempat Demak, yang tewas dibunuh Arya Penangsang tahun 1549. Ia kemudian dirawat bibinya, yakni Ratu Kalinyamat di Jepara. Setelah dewasa, Arya Pangiri dinikahkan dengan Ratu Pembayun, putri tertua Sultan Hadiwijaya dan dijadikan sebagai bupati Demak.
Selaku sultan, Arya Pangiri berlaku tidak adil terhadap warga asli Pajang. Ia menyebabkan orang-orang Demak guna menggeser status para pejabat Pajang. Bahkan, rakyat Pajang pun tersisih oleh kedatangan warga Demak.
Akibatnya, tidak sedikit warga Pajang yang pulang menjadi perampok sebab kehilangan mata pencaharian. Sebagian lagi pindah ke Jipang menghamba pada Pangeran Benawa. Pemerintahan Arya Pangiri melulu disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram.
Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal tersebut membuat Pangeran Benawa yang telah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.
Ayah dari Arya Penangsang ialah Raden Kikin atau tidak jarang disebut sebagai Pangeran Sekar, putra Raden Patah raja Demak kesatu. Ibu Raden Kikin ialah putri bupati Jipang sampai-sampai ia dapat mewarisi status kakeknya. Selain tersebut Arya Penangsang pun mempunyai saudara beda ibu mempunyai nama Arya Mataram.
Pada tahun 1521 anak kesatu Raden Patah yang mempunyai nama Adipati Kudus (orang Portugis menyebutnya Pate Unus, dikenal pun sebagai Pangeran Sabrang Lor sebab melakukan penyerangan ke Malaka yang dikuasai Portugis) gugur dalam perang. Kedua adiknya, yakni Raden Kikin dan Raden Trenggana, justeru berebut tahta.
Raden Mukmin atau yang disebut pun sebagai Sunan Prawoto (putra kesatu Raden Trenggana) membunuh Raden Kikin sepulang salat Jumat di ambang sungai dengan memakai keris Kyai Setan Kober yang dicurinya dari Sunan Kudus. Sejak itu, Raden Kikin familiar dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen (bunga yang gugur di sungai).
Intrik berikut yang lantas memicu Arya Penangsang mengamuk dan menantang Hadiwijaya. Hadiwijaya tidak meladeninya dan menciptakan sayembara. Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram) mengekor sayembara dan sukses menumpas Arya Penangsang dengan pertolongan Ki Penjawi dan Juru Martani serta putranya. Sejak itu, Pajang menjadi kerajaan berdaulat di mana Demak sebagai bawahannya.
Pada kitab Panembahan Senapati karya Gamal Kamandoko dibeberkan secara mendetail sepak terjang Pajang beserta Sultan Hadiwijaya, Arya Penangsang, dan Arya Pangiri dan Panembahan Senapati beserta Ki Ageng Mataram, Ki Penjawi, dan Ki Juru Martani.
Arya Penangsang dan Arya Pangiri adalah trah dekat Demak/Raden Patah meskipun pun trah Raden Wijaya. Sementara Hadiwijaya dan Sutawijaya adalah trah jauh Raden Wijaya.
Dari cerita di atas, dalam pandangan saya, Arya Penangsang dendam sebab ayahnya dibunuh oleh adiknya, yaitu Sunan Prawoto dalam perebutan tahta Demak. Bila lantas menurut keterangan dari sejarah versi Babad/Mataram, Arya Penangsang dicap sebagai orang yang jahat, pasti itulah yang namanya sejarah. Karena sejarah mempunyai dua sisi, yakni sisi pahlawan dan sisi pengkhianat/penjajah, tergantung siapa yang membuatnya.
Atau dapat juga menggunakan dikotomi pihak yang satu me-liyan-kan pihak yang lainnya sebagaimana diungkapkan oleh NB. Atmadja dalam bukunya Genealogi Keruntuhan Majapahit.
Kemudian tentang Arya Pangiri yang didukung oleh Sunan Kudus yang Islam putihan. Meskipun Arya Pangiri ialah putra Sunan Prawoto yang membunuh kakaknya sendiri, yaitu Raden Kikin alias ayah Arya Penangsang.
Sama halnya dengan Arya Penangsang yang di-liyan-kan, Arya Pangiri juga di-liyan-kan oleh Benawa dan Sutawijaya yang beraliran Islam abangan. Berdasarkan keterangan dari analisis saya, terdapat nuansa eliminasi terhadap pengikut Islam putihan oleh Islam abangan.
Arya Penangsang pun sangat barangkali menganut Islam putihan sebab pewaris Raden Patah. Arya Pangiri didukung oleh Sunan Kudus yang menganut Islam putihan. Pajang pun lantas runtuh pasca Arya Pangiri dan diteruskan oleh Mataram yang lebih condong ke Islam abangan ketimbang putihan dengan sokongan Sunan Kalijaga.
Kala tersebut Sunan Kalijaga yang berdakwah ala Islam abangan telah menjadi sesepuh dan mendominasi perpolitikan Mataram. Walaupun pada akhir hidupnya, Sunan Kalijaga sadar dengan menganut Islam putihan.
Hal tersebut diketahui dengan diketemukannya karya Sunan Kalijaga berupa buku Suluk Linglung. Kitab itu menguraikan perihal Islam putihan. Sementara Islam abangan digunakan untuk berdakwah untuk masyarakat Jawa yang masih kental dengan agama Hindu, Buddha, dan Animisme-nya.