Mataram berdiri akhir abad ke-15 lewat serangkaian suksesi berdarah, yang mengecat pergeseran dominasi di Jawa pasca runtuhnya imperium Majapahit. Kerajaan baru itu melulu perlu enam dekade untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang bertebaran di distrik Jawa Tengah dan Jawa Timur pasca berakhirnya imperium Majapahit. Penaklukan ini mewariskan ketegangan politik, ekonomi, dan kebiasaan yang berlarut-larut sesudahnya.
Kesuksesan politik perluasan Mataram menjangkau puncak saat Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646) memerintah. Dialah raja terbesar dinasti Mataram. Pada masa pemerintahannya, wilayah dominasi Mataram mencakup seluruh Jawa Madura (kecuali Batavia dan Banten) dan sejumlah daerah di luar Jawa, laksana Palembang, Jambi, dan Banjarmasin. Di samping dikenal sebagai raja yang berhasil dan kreatif, Sultan Agung dikenal pula sebagai raja yang ambisius dan brutal tatkala menghadapi lawan-lawan politiknya.
Kisah Mataram yang sangat menarik malah terjadi pada masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat I alias Sunan Tegalwangi, putra sekaligus pewaris tahta Sultan Agung. Masa pemerintahannya terkenal sarat intrik. Amangkurat I lebih tidak sedikit mewarisi kebrutalan saja, tanpa mewarisi kreativitas dan berhasil ayahnya. Kalau Sultan Agung menaklukkan, merayu dan mengerjakan manuver politik guna menjangkau ambisinya, Amangkurat I hanya dapat menuntut dan membunuh. Ia tidak menghiraukan ekuilibrium politik yang dibutuhkan untuk memimpin negeri sarat intrik laksana Mataram pada masa itu. Ia memfokuskan kekuasaan melulu untuk mengisi kepentingannya sendiri.
Pada ketika Amangkurat I berkuasa, ada sebuah peristiwa yang paling tragis. Isterinya, yang bergelar Ratu Malang, meninggal dan dimakamkan di Antakapura, Redi, Kelir (daerah Pajang Sala). Bukan ketika meninggalnya yang dinamakan tragis tetapi ketragisan tersebut terjadi malah setelahnya. Akibat meninggalnya Ratu Malang ini, puluhan perempuan dan pria di ibukota Mataram dan sekitarnya meninggal dibunuh atau terbunuh. Mengapa ?
Selengkapnya baca di sini : Amangkurat I Diktator Pertama Tanah Jawa
Seperti diketahui dalam kronik sejarah mencantol raja yang yang satu ini, dalam permasalahan wanita Amangkurat I memang dikenal “luar biasa”. Sewaktu masih menjadi putera mahkota, Amangkurat I diberitakan pernah mencuri wanita tercantik salah satu isteri-isteri Tumenggung Wiraguna (salah satu pejabat tinggi Mataram sewaktu ayah Amangkurat I, Sultan Agung masih berkuasa). Karena perbuatannya tersebut, Amangkurat I dihukum oleh ayahnya sedangkan wanita cantik itu dibunuh oleh Wiraguna.
Saat telah menjadi raja sebelum memperisteri Ratu Malang, Amangkurat I sudah mempunyai tidak sedikit isteri. Jumlahnya diduga paling tidak banyak 43 orang. Di luar isteri-isteri tersebut, Amangkurat I memiliki isteri yang bergelar Ratu Ageng/ Ratu Kulon / Ratu Pangayun. Ia ialah puteri Pangeran Pekik dari Surabaya yang meninggal 40 hari setelah mencetuskan RM Rahmat (Amangkurat II) dan dimakamkan di Girilaya.
Suatu ketika Amangkurat I bercita-cita lagi menggali wanita cantik yang bakal dijadikan selirnya. Pangeran Balitar mencalonkan seorang perempuan yang disinggung berasal dari wilayah Pajang anak Ki Wayah (Waya), seorang dalang wayang. Wanita ini sebelumnya telah bersuamikan Ki Dalem (Ki Dain) dan sedang berisi 3 bulan.
Untuk memuluskan keinginannya guna mendapatkan perempuan itu, Ki Dalem kemudian dibunuh. Kemudian setelah mencetuskan anaknya – yang diberi nama Raden Natabrata. Maka lantas wanita itu dibawa ke istana dan diperisteri oleh Sunan Amangkurat I. Gelar yang diserahkan kepada perempuan yang menemani Sunan sekitar sekitar 17 tahun -itu ialah Ratu Wetan / Ratu Malang / Ratu Malat.
Mungkin sebab cemburu atau mungkin sebab takut bahwa Ratu Malang bakal menurunkan anak yang bakal menggantikan Amangkurat I atau sebab sebab lain, diberitakan Ratu Malang tidak disenangi oleh isteri-isteri Amangkurat I lainnya. Mungkin karena tersebut pula terdapat yang menyantet / mengguna-guna atau barangkali ada yang sengaja meracuninya.
Ratu Malang diberitakan meninggal dalam suasana muntah dan kotorannya encer. Amangkurat I dikabarkan paling murka dan sebab itulah terjadi peristiwa tragis. Sekitar 43 orang selir dan dayangnya dibunuh atas perintahnya. Sunan dikabarkan paling sedih sehingga lumayan lama meninggalkan hal kerajaan. Setiap hari Sunan Amangkurat I tampak meratapi kematian isterinya tersebut di kuburannya.
Setelah kematian Ratu Malang, isteri yang paling dicintainya Amangkurat I , mengajak dua orang mantri, Nayatruna dan Yudakarti, untuk menggali wanita pengganti yang sama cantiknya. Entah apa sebabya, wanita tersebut disyaratkan mesti berasal dari wilayah yang sumurnya berair segar.
Kedua utusan itu berangkat menjalankan tugasnya. Saat hingga di suatu tempat di ambang Kali Mas Surabaya, mereka bertemu dengan seorang mantri dari sana yang mempunyai nama Ngabei Mangunjaya. Mantri tersebut sesudah mendengar maksud dan tujuan dua-duanya lalu menawarkan anak perempuannya yang mempunyai nama Oyi. Saat tersebut anak tersebut diduga usianya baru berumur 11 tahun dan dikabarkan masih suka bermain bunga.
Para duta memang terpesona menyaksikan gadis itu. Kedua duta lalu menerima tawaran tersebut. Singkat cerita, Rara Oyi lalu diangkut ke Plered. Sewaktu dihadapkan untuk Sunan, Sunan mnganggapnya masih terlampau muda dan karenanya dititipkan untuk seorang mantri beda yang mempunyai nama Ngabei Wirareja guna nantinya setelah lumayan dewasa dipersunting oleh Sunan.
Suatu ketika putera mahkota, RM Rahmat (kelak menjadi Amangkurat II), sesudah gagal menikah dengan puteri Raja Cirebon, secara kebetulan mampir ke lokasi tinggal Ngabei Wirareja. Demi dilihatnya Rara Oyi, yang sedang membatik bareng Nyai Wirareja, RM Rahmat / Amangkurat II jatuh cinta kepadanya.
RM Rahmat bertanya mengenai siapa dan kedudukan gadis tersebut. Wirareja memberitahu bahwa gadis itu ialah calon isteri ayahnya. RM Rahmat diberitakan patah hati kemudian sakit keras, tidak santap dan tidak tidur.
Kerabat yang diorangtuakan oleh RM Rahmat dan berwibawa di Mataram yang tahu urusan tersebut mengambil tahapan berani. Bersama isterinya, kerabat itu pergi ke lokasi tinggal Wirareja dengan membawa hadiah yang mahal-mahal. Wirareja rupanya terbujuk dan diberikanlah Rara Oyi, yang lantas dibawa ke istana kerabat tersebut.
Sunan Amangkurat I marah mendengar berita itu. Sunan lalu menyuruh menyerbu dan membunuh kerabat itu beserta 40 orang family dan abdi dalemnya. Wirareja pun dilemparkan dan lantas dibunuh di hutan Lodaya , Ponorogo. Sementara Putera Mahkota dilemparkan ke Lipura. Nuwun.