"GUS DUR DIPANGGIL SUNAN GUNUNG JATI "SECARA TIBA TIBA

Kisah mengenai “kehidupan” semua wali yang telah meninggal ini di antaranya dirasakan oleh Gus Dur yang tidak jarang berkomunikasi dengan sebanyak wali yang sudah lama meninggal, diantaranya dengan Sunan Gunung Jati.

Mantan sekretaris jenderal PBNU H Arifin Junaidi mengisahkan, sebuah ketika, ia dherekke Gus Dur ke Cirebon guna bertemu dengan KH Fuad Hasyim, pengasuh pesantren Buntet. Usai pertemuan yang dilangsungkan sampai larut malam tersebut, mereka bergerak mengarah ke Pekalongan untuk mendatangi Habib Lutfi bin Yahya.

Di tengah perjalanan, tepatnya di wilayah Losari, selama pukul 1 malam, Gus Dur meminta sopirnya guna kembali lagi mengarah ke ke makam Sunan Gunung Jati yang berada di perumahan Astana Gunung Sembung Cirebon.

“Saya baru saja dipanggil Sunan Gunung Jati,” kata Gus Dur menyatakan alasannya pulang ke Cirebon.

Anggota regu yang beda semuanya terdiam saja, tanpa komentar. Dan perjalanan juga berlanjut hingga di perumahan makam. Herannya, di tengah malam buta tersebut, semua juru kunci yang terdapat semuanya berkumpul, lengkap, menyambut kedatangan Gus Dur itu dengan menggunakan seragam kebesarannya yang biasa digunakan ketika menerima tamu istimewa, seakan-akan sudah terdapat yang memberi tahu, sebenarnya waktu tersebut belum terdapat HP sebagai perangkat komunikasi yang canggih.

Mereka juga langsung mengarah ke pemakaman. Sebagaimana tradisi Nahdliyin, saat berziarah, mereka juga memanjatkan dzikir dan tahlil serta mendoakan Sunan Gunung Jati yang sudah berjasa menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Usai tahlil, Gus Dur tertunduk dan diam saja. Ia lalu terbit dari ruangan lokasi dzikir mengarah ke halaman. Arifin masih penasaran kok semua juru kunci telah pada siap menerima trafik Gus Dur, sebenarnya sebelumnya tidak terdapat rencana berziarah.

Ia kemudian bertanya untuk seseorang mengenai kejadian ini. “Kok telah pada siap dan siapa yang memberi tahu?” Dijawabnya, seluruh juru kunci dibangkitkan malam-malam tersebut juga oleh kordinatornya, dan diajak bersiap oleh Kanjeng Sunan dengan pesan “Cucuku inginkan datang ke sini.”

Ia juga hanya dapat manggut-manggut keheranan akan gejala luar biasa ini. Setelah dirasa lumayan ziarahnya, mereka juga kembali melanjutkan perjalanan ke Pekalongan sebagaimana rencana semula. Karena masih penasaran, ia kemudian bertanya untuk Gus Dur, kapan dipanggil oleh Sunan Gunung Jati.

“Ya tadi, masa-masa perjalanan baru dipanggil, diajak mampir. Ke Cirebon kok nggak mampir.”

Gus Dur pun menjelaskan, masa-masa dirinya terdiam seusai tahlil, ia sedang bercakap-cakap dengan Sunan Gunung Jati, membincangkan sekian banyak  masalah yang dihadapi oleh umat. [dutaislam.com/ ab]