Di unsur Serat Babad Pakunagaran yang meriwayatkan tahun 1750, di tengah-tengah perang di Gondang, dekat Surakarta, anda menemukan pemaparan panji perang
Mangkunagara: bandera wulung kakasih, juga Samber Nyawa, ciri wulan aputih; suatu panji perang berwarna wulung, namanya Samber Nyawa, dan berciri bulan berwarna putih (hampir tentu bulan sabit). Jadi, jelaslah nama “Samber Nyawa” berasal dari panji perang Sang Pangeran.
Pada era tersebut lazim tokoh-tokoh pemimpin punya panji perang yang diserahkan nama. Misalnya, panji perang Pangeran Mangkubumi mempunyai nama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja punya panji yang namanya Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.
Dalam sumber primer lain, anda sekali lagi mengejar panji Samber Nyawa. Ini semacam gabungan antara kitab harian dan babad.
Sekali lagi ini adalahinovasi dalam kesusasteraan Jawa: kitab harian sangat kuno yang diketahui. Masih terdapat sejumlah naskah yang diberi judul berbeda-beda: Babad Tutur, Babad Nitik Mangkunagaran, dan Babad Nitik Samber Nyawa, yang mencakup tahun 1780 hingga 1793.
Naskah-naskah ini ditabung di perpustakaan Leiden, Mangkunagaran, Museum Radyapustaka, dan Museum Sonobudoyo. Penulisnya tak diketahui, namun jelas kitab itu dicatat prajurit estri dalam Pura Mangkunagaran.
Pada unsur Babad Tutur yang tertanggal 15 Oktober 1791, kita menyimak kenang-kenangan (oleh Mangunagara I sendiri?) tentang kehidupan Sang Pangeran sebelum tahun 1757, ketika masih berperang. Panji perang Samber Nyawa
dideskripsikan: bandera denarani, juga Samber Nyawa ranipun, mila ran Samber Nyawa, pilih kang tahan nadhani, yen anamber kang mengsah kathah kang pejah /0/ yen langkung ageng kang mengsah, m[a]ring wana ngardi ngo[n]cati, yen sedheng mengsah kapisah, sinamber saking ing wukir, mengsah kagyat keh mati, lamun dengengi kang mungsuh, ngo[n]cati dhateng wana, Jeng Gusti Pangran Dipati, kang bandera mila ran juga Samber Nyawa.
Terjemahannya: Panji perang Samber Nyawa namanya, disebut Samber Nyawa sebab jarang orang dapat bertahan. Kalau menyambar, tidak sedikit musuh yang mati. /0/ Kalau musuh terlampau banyak, [Mangkunagara] melarikan diri ke hutan di gunung.
Kalau jumlah musuhnya yang terpisah sedang, mereka disambar dari puncak gunung. Musuh terkejut karena tidak sedikit dari mereka yang mati, bila musuh dijumlahkan. [Mangkunagara] telah melarikan diri ke hutan di gunung. Karena itulah panji perang Sang Pangeran Adipati [Mangkunagara] disebut Samber Nyawa.
Berperang Laksana Macan
Panji perang Samber Nyawa terkenal di kalangan orang Jawa ketika Mangkunagara masih berperang, dan adalahobjek yang bisa buat keder musuh-musuhnya. Malahan, panji perang itu dirasakan punya kekuatan luar biasa.
Salah satu peristiwa yang bersangkutan dengan panji perang itu dikisahkan dalam sumber Jawa maupun Belanda. Peristiwa tersebut terjadi pada Oktober 1756. Pada paruh kedua tahun 1756, kondisi Mangkunagara semakin memprihatinkan. Bersama saldo pengikutnya yang masih loyal, berjumlah tidak lebih dari 400 prajurit, dan keluarganya, dia siap membela diri di wilayah pegunungan di Kaduwang. Para musuhnya –Sultan Mangkubumi, Susuhunan Pakubuwana III, dan Kompeni Belanda– mengepungnya dengan memblokir semua jalan.
Sultan Mangkubumi, seorang perwira yang pun amat masyur, memimpin tentaranya sendiri.
Dalam situasi terjepit, nasib Mangkunagara amat suram. Penasehat utamanya, Kudanawarsa, yang sedang terluka, paling takut bakal masa depannya.
Namun Sang Pangeran memilih suatu jalan yang tak diketahui orang beda (dengan mengekor burung-burung gagak yang kelihatannya menjadi pemimpin gaibnya). Dia pun dapat meloloskan diri dari kepungan musuh tanpa diketahui mereka.
Dari wilayah pegunungan, dia bergerak ke Desa Giyanti, lokasi persetujuan antara Mangkubumi dan VOC pada 1755, dan membakarnya. Dari sana mereka mendekati wilayah Mataram.
Kudanawarsa dan semua prajurit, yang masih diselimuti ketakutan, menekankan situasinya amat riskan dan mendorong Mangkunagara guna mundur. Namun, disalin dalam otobiografi Serat Babad Pakunagaran, Sang Pangeran dengan tegas menjawab: “Walaupun saya mati, bila sudah mendatangi ajal, tidak boleh jauh dari Mataram, lokasi pemakaman semua leluhur saya.
Mari kita bareng jangan menghitung mati, serahkan diri untuk Allah, ayo kita masuk api!” (sanadyan aku matiya, yen wus tumekeng jangji, aja doh Mataram, dagane luhur ingwang, payo padha derah pati, asrah ing Allah, payo alebu gni).
Pada 28 Oktober 1756, dengan 300 pasukan kuda andalannya, Mangkunagara terbit di jalan dari Prambanan ke Yogyakarta. Saat itu, Yogyakarta hanya dipertahankan sedikit tentara, sebab kebanyakan tentara kasultanan yang dipimpin Sri Sultan dan kekuatan VOC masih berada di wilayah Kaduwang untuk menggali Mangkunagara.
Mangkunagara dan semua pasukannya belum mengibarkan panji perang. Mereka bertemu sejumlah remaja dengan kerbau di jalan. Sepuluh kerbau dipungut dan digembalakan di depan mereka. Melihat mereka sedang mendekati keraton kasultanan, masyarakat menduga mereka serdadu Yogyakarta yang kembali dari medan perang dengan rampasannya.
Saat itu, seorang bupati senior mempunyai nama Cakrakarti (atau Cakrajaya) sedang main kartu dengan orang Belanda di loji Kompeni. Seorang serdadu penjaga Eropa menyaksikan ada kumpulan pasukan yang mendekati dan masuk loji guna bertanya apakah Sri Sultan dan Pangeran Mahkota sudah kembali dari medan perang. Cakrakarti terbit untuk menyaksikan siapa yang menginjak kota.
Sekonyong-konyong Mangkunagara membentangkan panjinya (yang tidak disebut dalam sumber-sumber kita, tapi tentu Samber Nyawa). Cakrakarti terkejut begitu mengenali tersebut bukan panji dari pihak Yogyakarta!
Mangkunagara dan pasukannya langsung menyerang keraton baru Sri Sultan yang tercipta dari kayu. Mereka kemudian bergerak ke unsur selatan keraton, ke lokasi tinggal Bupati Distrik Mataram Raden Adipati Jayaningrat.
Sang Bupati sedang minum teh dengan Tumenggung Sindusastra, kepala semua pujangga kasultanan. Pihak Mangkunagara mencungkil tembakan. Kedua figur senior itu berjuang meloloskan diri lewat kebun tetapi gagal; Sindusastra diciduk dan dibunuh sementara Jayaningrat terluka.
Di mana-mana, di keliling keraton, hadir kepanikan. Di gardu alun-alun kidul melulu ada 18 serdadu Kompeni. Mereka mencungkil dua salvo sebelum darurat kabur ke dalam keraton dan mengunci pintu selatannya. Mangkunagara mengejar. Berdasarkan keterangan dari salah satu sumber Belanda, Mangkunara dan pasukannya berperang “seperti macan”.
Akhirnya Kompeni menembaki semua penyerbu dengan meriam dari dinding loji. Mangkunagara pun menyuruh mundur melewati jalan ke Prambanan.
Sebagian dari keraton terbakar dan sebanyak orang tewas. Berdasarkan keterangan dari sumber Belanda, Mangkunagara kehilangan 30 prawira dalam serangan tersebut dan melarikan diri secara panik.
Namun menurut keterangan dari Serat Babad Pakunagaran, mereka mundur secara tertata dan Sang Pangeran memandang tembakan meriam dari loji Kompeni sebagai semacam salut terhadapnya.
Sri Sultan Mangkubumi paling marah. Dia sekali lagi ditipu oleh Mangkunagara, yang sukses meloloskan diri dari kepungan di Kaduwang, menginjak keraton Yogyakarta tanpa perlawanan, membunuh dan membakar, serta pergi bareng sebagian besar tentaranya –dan pasti saja dengan membawa panji perang Samber Nyawa yang tersohor. Kendati sejumlah bulan sesudah tersebut Sang Pangeran berbaikan di Surakarta, Sri Sultan tetap marah kepadanya.
Anumerta
Pada 28 Desember 1795 (atau Senen-Pon, 16 Jumadilakir, windu Adi, wuku Pahang, mongsa Kapitu, tahun Jimakir 1722), Pangeran Mangkunagara I wafat di dalemnya di Surakarta. Dia dimakamkan di Mangadeg, di lereng Gunung Lawu.
Sesudah wafat, raja-raja Jawa dan tokoh-tokoh besar beda diberi sebutan anumerta. Kapan dan bagaimana teknik untuk memilih sebutan tersebut tidaklah jelas. Dalam permasalahan Mangkunagara I, ada opsi yang gampang.
Mangkunagara I seorang prawira sejati, yang mempunyai karier perang gemilang. Jadi guna sebutan anumerta dipilih nama objek terkenal, yang mendampinginya dalam perang, dirasakan mempunyai kekuatan gaib, dan dikenal di semua Jawa –baik oleh pengikut-pengikut Sang Pangeran maupun musuh-musuhnya– sebagai tanda individu tokoh spektakuler ini. Panji perangnya mempunyai nama Samber Nyawa.
Dengan demikian, Pangeran Mangkunagara I almarhum menjadi Pangeran Samber Nyawa. Nama tersebut menjadi legendaris dan tetap termasyur hingga sekarang; 222 tahun setelah wafatnya Pangeran Mangkunagara I.
Mangkunagara: bandera wulung kakasih, juga Samber Nyawa, ciri wulan aputih; suatu panji perang berwarna wulung, namanya Samber Nyawa, dan berciri bulan berwarna putih (hampir tentu bulan sabit). Jadi, jelaslah nama “Samber Nyawa” berasal dari panji perang Sang Pangeran.
Pada era tersebut lazim tokoh-tokoh pemimpin punya panji perang yang diserahkan nama. Misalnya, panji perang Pangeran Mangkubumi mempunyai nama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja punya panji yang namanya Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.
Dalam sumber primer lain, anda sekali lagi mengejar panji Samber Nyawa. Ini semacam gabungan antara kitab harian dan babad.
Sekali lagi ini adalahinovasi dalam kesusasteraan Jawa: kitab harian sangat kuno yang diketahui. Masih terdapat sejumlah naskah yang diberi judul berbeda-beda: Babad Tutur, Babad Nitik Mangkunagaran, dan Babad Nitik Samber Nyawa, yang mencakup tahun 1780 hingga 1793.
Naskah-naskah ini ditabung di perpustakaan Leiden, Mangkunagaran, Museum Radyapustaka, dan Museum Sonobudoyo. Penulisnya tak diketahui, namun jelas kitab itu dicatat prajurit estri dalam Pura Mangkunagaran.
Pada unsur Babad Tutur yang tertanggal 15 Oktober 1791, kita menyimak kenang-kenangan (oleh Mangunagara I sendiri?) tentang kehidupan Sang Pangeran sebelum tahun 1757, ketika masih berperang. Panji perang Samber Nyawa
dideskripsikan: bandera denarani, juga Samber Nyawa ranipun, mila ran Samber Nyawa, pilih kang tahan nadhani, yen anamber kang mengsah kathah kang pejah /0/ yen langkung ageng kang mengsah, m[a]ring wana ngardi ngo[n]cati, yen sedheng mengsah kapisah, sinamber saking ing wukir, mengsah kagyat keh mati, lamun dengengi kang mungsuh, ngo[n]cati dhateng wana, Jeng Gusti Pangran Dipati, kang bandera mila ran juga Samber Nyawa.
Terjemahannya: Panji perang Samber Nyawa namanya, disebut Samber Nyawa sebab jarang orang dapat bertahan. Kalau menyambar, tidak sedikit musuh yang mati. /0/ Kalau musuh terlampau banyak, [Mangkunagara] melarikan diri ke hutan di gunung.
Kalau jumlah musuhnya yang terpisah sedang, mereka disambar dari puncak gunung. Musuh terkejut karena tidak sedikit dari mereka yang mati, bila musuh dijumlahkan. [Mangkunagara] telah melarikan diri ke hutan di gunung. Karena itulah panji perang Sang Pangeran Adipati [Mangkunagara] disebut Samber Nyawa.
Berperang Laksana Macan
Panji perang Samber Nyawa terkenal di kalangan orang Jawa ketika Mangkunagara masih berperang, dan adalahobjek yang bisa buat keder musuh-musuhnya. Malahan, panji perang itu dirasakan punya kekuatan luar biasa.
Salah satu peristiwa yang bersangkutan dengan panji perang itu dikisahkan dalam sumber Jawa maupun Belanda. Peristiwa tersebut terjadi pada Oktober 1756. Pada paruh kedua tahun 1756, kondisi Mangkunagara semakin memprihatinkan. Bersama saldo pengikutnya yang masih loyal, berjumlah tidak lebih dari 400 prajurit, dan keluarganya, dia siap membela diri di wilayah pegunungan di Kaduwang. Para musuhnya –Sultan Mangkubumi, Susuhunan Pakubuwana III, dan Kompeni Belanda– mengepungnya dengan memblokir semua jalan.
Sultan Mangkubumi, seorang perwira yang pun amat masyur, memimpin tentaranya sendiri.
Dalam situasi terjepit, nasib Mangkunagara amat suram. Penasehat utamanya, Kudanawarsa, yang sedang terluka, paling takut bakal masa depannya.
Namun Sang Pangeran memilih suatu jalan yang tak diketahui orang beda (dengan mengekor burung-burung gagak yang kelihatannya menjadi pemimpin gaibnya). Dia pun dapat meloloskan diri dari kepungan musuh tanpa diketahui mereka.
Dari wilayah pegunungan, dia bergerak ke Desa Giyanti, lokasi persetujuan antara Mangkubumi dan VOC pada 1755, dan membakarnya. Dari sana mereka mendekati wilayah Mataram.
Kudanawarsa dan semua prajurit, yang masih diselimuti ketakutan, menekankan situasinya amat riskan dan mendorong Mangkunagara guna mundur. Namun, disalin dalam otobiografi Serat Babad Pakunagaran, Sang Pangeran dengan tegas menjawab: “Walaupun saya mati, bila sudah mendatangi ajal, tidak boleh jauh dari Mataram, lokasi pemakaman semua leluhur saya.
Mari kita bareng jangan menghitung mati, serahkan diri untuk Allah, ayo kita masuk api!” (sanadyan aku matiya, yen wus tumekeng jangji, aja doh Mataram, dagane luhur ingwang, payo padha derah pati, asrah ing Allah, payo alebu gni).
Pada 28 Oktober 1756, dengan 300 pasukan kuda andalannya, Mangkunagara terbit di jalan dari Prambanan ke Yogyakarta. Saat itu, Yogyakarta hanya dipertahankan sedikit tentara, sebab kebanyakan tentara kasultanan yang dipimpin Sri Sultan dan kekuatan VOC masih berada di wilayah Kaduwang untuk menggali Mangkunagara.
Mangkunagara dan semua pasukannya belum mengibarkan panji perang. Mereka bertemu sejumlah remaja dengan kerbau di jalan. Sepuluh kerbau dipungut dan digembalakan di depan mereka. Melihat mereka sedang mendekati keraton kasultanan, masyarakat menduga mereka serdadu Yogyakarta yang kembali dari medan perang dengan rampasannya.
Saat itu, seorang bupati senior mempunyai nama Cakrakarti (atau Cakrajaya) sedang main kartu dengan orang Belanda di loji Kompeni. Seorang serdadu penjaga Eropa menyaksikan ada kumpulan pasukan yang mendekati dan masuk loji guna bertanya apakah Sri Sultan dan Pangeran Mahkota sudah kembali dari medan perang. Cakrakarti terbit untuk menyaksikan siapa yang menginjak kota.
Sekonyong-konyong Mangkunagara membentangkan panjinya (yang tidak disebut dalam sumber-sumber kita, tapi tentu Samber Nyawa). Cakrakarti terkejut begitu mengenali tersebut bukan panji dari pihak Yogyakarta!
Mangkunagara dan pasukannya langsung menyerang keraton baru Sri Sultan yang tercipta dari kayu. Mereka kemudian bergerak ke unsur selatan keraton, ke lokasi tinggal Bupati Distrik Mataram Raden Adipati Jayaningrat.
Sang Bupati sedang minum teh dengan Tumenggung Sindusastra, kepala semua pujangga kasultanan. Pihak Mangkunagara mencungkil tembakan. Kedua figur senior itu berjuang meloloskan diri lewat kebun tetapi gagal; Sindusastra diciduk dan dibunuh sementara Jayaningrat terluka.
Di mana-mana, di keliling keraton, hadir kepanikan. Di gardu alun-alun kidul melulu ada 18 serdadu Kompeni. Mereka mencungkil dua salvo sebelum darurat kabur ke dalam keraton dan mengunci pintu selatannya. Mangkunagara mengejar. Berdasarkan keterangan dari salah satu sumber Belanda, Mangkunara dan pasukannya berperang “seperti macan”.
Akhirnya Kompeni menembaki semua penyerbu dengan meriam dari dinding loji. Mangkunagara pun menyuruh mundur melewati jalan ke Prambanan.
Sebagian dari keraton terbakar dan sebanyak orang tewas. Berdasarkan keterangan dari sumber Belanda, Mangkunagara kehilangan 30 prawira dalam serangan tersebut dan melarikan diri secara panik.
Namun menurut keterangan dari Serat Babad Pakunagaran, mereka mundur secara tertata dan Sang Pangeran memandang tembakan meriam dari loji Kompeni sebagai semacam salut terhadapnya.
Sri Sultan Mangkubumi paling marah. Dia sekali lagi ditipu oleh Mangkunagara, yang sukses meloloskan diri dari kepungan di Kaduwang, menginjak keraton Yogyakarta tanpa perlawanan, membunuh dan membakar, serta pergi bareng sebagian besar tentaranya –dan pasti saja dengan membawa panji perang Samber Nyawa yang tersohor. Kendati sejumlah bulan sesudah tersebut Sang Pangeran berbaikan di Surakarta, Sri Sultan tetap marah kepadanya.
Anumerta
Pada 28 Desember 1795 (atau Senen-Pon, 16 Jumadilakir, windu Adi, wuku Pahang, mongsa Kapitu, tahun Jimakir 1722), Pangeran Mangkunagara I wafat di dalemnya di Surakarta. Dia dimakamkan di Mangadeg, di lereng Gunung Lawu.
Sesudah wafat, raja-raja Jawa dan tokoh-tokoh besar beda diberi sebutan anumerta. Kapan dan bagaimana teknik untuk memilih sebutan tersebut tidaklah jelas. Dalam permasalahan Mangkunagara I, ada opsi yang gampang.
Mangkunagara I seorang prawira sejati, yang mempunyai karier perang gemilang. Jadi guna sebutan anumerta dipilih nama objek terkenal, yang mendampinginya dalam perang, dirasakan mempunyai kekuatan gaib, dan dikenal di semua Jawa –baik oleh pengikut-pengikut Sang Pangeran maupun musuh-musuhnya– sebagai tanda individu tokoh spektakuler ini. Panji perangnya mempunyai nama Samber Nyawa.
Dengan demikian, Pangeran Mangkunagara I almarhum menjadi Pangeran Samber Nyawa. Nama tersebut menjadi legendaris dan tetap termasyur hingga sekarang; 222 tahun setelah wafatnya Pangeran Mangkunagara I.